islam,mahkota islam,moslem,muslim,solusi,solution,sains,technology,teknologi,quran,nusantara

Halaman sebelumnya :


     Masalah takdir bagaikan lautan yang sangat dalam. Barangsiapa yang berusaha menyelaminya maka ia akan tenggelam di dalamnya. Karena itu disini kami hanya mengupas bagian utamanya saja tidak masuk terlalu dalam yang justru dapat menyesatkan.
     Islam adalah agama pertengahan, yang mengajarkan pertengahan dalam segala sesuatu. Begitu juga masalah takdir. Barangsiapa beranggapan bahwa takdir adalah bentuk pemaksaan tanpa ada pilihan maka ia telah tersesat. Dan yang beranggapan bahwa takdir adalah kebebasan melakukan segala hal tanpa ada penghalang maka ia juga tersesat. Sebelum mengupas masalah takdir, orang islam dan karena islam agama pertengahan, seharusnya berpegang pada pemikiran awal bahwa takdir terletak dipertengahan, antara pemaksaan dan kebebasan, sehingga tetap berada dalam jalan yang lurus.
     Ada beberapa ayat yang seharusnya dipakai sebagai kerangka utama dan pembatas agar pemikiran tidak menyimpang keluar jalur.
“Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.” (Qs. Al Fath : 23)
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?” (Qs. Al Ankabuut : 2)
“Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman.” (Qs. Ali Imran : 166)
Kejadian apapun yang menimpa manusia, kebaikan maupun keburukan, senantiasa ‘patuh’/mengikuti hukum sunnatullah dan sebagai kehendak-Nya untuk menguji kebenaran iman orang-orang islam. Ujian iman hanya berlaku bagi orang-orang islam.
“Sesungguhnya Allah tidak berbuat dzalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat dzalim kepada diri mereka sendiri.” (Qs. Yunus : 44)
“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Yunus : 107)
Dan Ya´qub berkata: "Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri". (Qs. Yusuf : 67)
Semua takdir, baik dan buruk, merupakan kehendak-Nya. Yang dikehendaki dari manusia adalah terus berusaha dan bertawakkal kepada-Nya hingga jelas hujah bagi kadar keimanan.
“Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (Qs. Faathir : 38)
Karena Allah Maha Mengetahui semua kehendak manusia, yang masih ada dalam hatipun, sudah terlihat oleh-Nya. Pengetahuan Allah ini bahkan sebelum manusia tercipta. Atas dasar pengetahuan-Nya yang azali inilah Allah SWT menuliskan/menetapkannya sebagai ketentuan takdir di Lauh Mahfuzh.
“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).”
(Qs. Ar Ra’d : 39)
Takdir yang sudah ditetapkan-Nya pun bisa berubah kalau Allah berkehendak. Kehendak Allah untuk merubah apa yang sudah ditetapkan-Nya terpicu oleh do’a yang keluar dari hati seorang hamba yang bertakwa lagi tawakkal kepada-Nya (bukan hamba sembarangan). Perubahan yang dilakukan-Nya mengikuti usaha yang dilakukan hamba yang bertakwa tersebut dengan rahmat pertolongan yang diberikan-Nya. Usaha manusia tidak sebanding dengan Rahmat-Nya tersebut. Usaha manusia bukanlah penyebab terjadinya apa yang dikehendaki tetapi Rahmat-Nya itulah penyebab utama sedang usaha manusia harus dilakukan sebagai ujian keimanan.
“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(Qs. Faathir : 2)
     Seperti yang sudah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya bahwa ayat pertama hingga ke-empat Surah Al Fatihah menggambarkan bagian kepekaan hati yang mengikuti pengetahuan ma’rifat yang dimiliki seseorang. Ragam jenis pengetahuan ma’rifat ini menimbulkan ragam jenis cinta. Cinta inilah energi penggerak suatu perbuatan. Jika ma’rifatnya adalah ma’rifat tentang kesempurnaan abadi maka menghasilkan cinta bersifat akhirati yang menggerakkan amalan shalih. Jika ma’rifatnya adalah ma’rifat tentang keindahan duniawi lahiriah maka menghasilkan cinta bersifat duniawi yang menggerakkan amal keduniaan semata. Cara/jalan yang digunakan untuk beramal tergantung dari jenis pengetahuan logis yang diterima akal pikiran (sebagai bagian ayat ke enam dan ketujuh Surah Al Fatihah). Kalau pengetahuan yang dimiliki akal pikiran adalah pengetahuan syar’i maka cara/jalan yang digunakan adalah jalan lurus yang diridloi-Nya. Bila pengetahuan syar’i ini tidak dimiliki akal pikiran maka amal perbuatan yang lahir adalah menghalalkan segala cara. Jadi jenis amal perbuatan tergantung jenis cinta penggerak yang ada di kedalaman hati dan jenis pengetahuan alat yang dimiliki akal pikiran. Maka manusia bebas dalam hal memilih jenis pengetahuan ini (yang menentukan jenis amal perbuatan) dan dibatasi oleh kadar cinta dan kadar pengetahuan yang dimilikinya. Qadha adalah hukum-hukum sebab akibat (sunnatullah) yang sudah ditetapkan-Nya dan tidak pernah berubah. Qadha adalah sebab-sebab yang menjadi daftar pilihan manusia dan menjadi objek pengetahuan akal pikiran. Rangkaian sebab untuk mencapai tujuan ini membentuk ‘jalan’. Sebab-sebab yang mendatangkan kebaikan telah terangkum (secara implisit/sembunyi) dalam hukum-hukum syar’i. Jadi manusia tidak perlu pusing dengan mempelajari banyak sebab (ilmu alat), cukup mengikuti hukum syar’i, selamat dan bahagia di dunia maupun di akherat. Sedang qadar adalah ukuran yang membatasi dan membuat beda antar manusia. Qadho adalah bagian kebebasan memilih. Sedang qadar adalah bagian dimana manusia ‘dipaksa’ harus menerimanya, tidak dapat memilih. Tetapi bagian qadar bisa diganti dengan persyaratan khusus, berdasar pada ayat ke-39 Surah Ar Ra’d yang telah disebutkan sebelumnya.
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Qs. Al Qamar : 49)
“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (Qs. Ar Ra’d : 17)
Air pada ayat di atas ibarat dari rahmat/karunia ilmu yang diberikan-Nya kepada manusia. Lembah-lembah merupakan ibarat hati. Ilmu yang diterima masing-masing manusia berbeda-beda sesuai dengan kapasitas/ukuran dan kesiapan hati ketika ilmu-Nya diturunkan.
     Kehendak Allah asalnya dari surga dengan Asma-Nya Ar-Rahman dan Ar-Rahim yang dipenuhi keindahan dan kebaikan tetapi ketika sampai di hati manusia bisa berubah menjadi keburukan dan kejahatan tergantung dari pengetahuan yang dimiliki hati dan akal.
“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia.” (Qs. Yaasiin : 82)
Bagian ‘KUN’ pada ayat diatas, kafnya adalah Kamaliyah (Kesempurnaan dan Keindahan Allah) bila hati memgandung ma’rifatullah tetapi bila tidak maka kafnya adalah Kufriyah (Keingkaran dan Penolakan). Nun pada ‘KUN’ tersebut adalah An Nur (Cahaya Ilmu-Nya) bila akal pikiran mengandung pengetahuan hukum-hukumNya (syari’at) tetapi bila tidak maka nunnya adalah Nakirah (kebodohan tentang jalan lurus).
Jika hati mengandung pengetahuan tentang kesempurnaan Allah dan mengenal Allah dengan baik maka keindahan tersebut bisa diterima dengan baik oleh hati dan menghasilkan cinta penggerak ilahiah. Tetapi jika hati kosong dari pengetahuan tentang kesempurnaan Allah maka keindahan tersebut akan ditolak dan diingkari sehingga keindahan berubah warna menjadi keburukan yang menggelapkan dan mengacaukan hati yang menghasilkan cinta penggerak syataniah.
“Sesungguhnya Allah tidak berbuat dzalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat dzalim kepada diri mereka sendiri.” (Qs. Yunus : 44)
Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakr bin Abu Syaibah]; Telah menceritakan kepada kami [Abu Mu'awiyah] dan [Waki']; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin 'Abdullah bin Numair Al Mahdani] dan lafazh ini miliknya; Telah menceritakan kepada kami [Bapakku] dan [Abu Mu'awiyah] dan [Waki'] mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami [Al A'masy] dari [Zaid bin Wahb] dari ['Abdullah] dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yaitu -Ash Shadiq Al Mashduq-(seorang yang jujur menyampaikan dan berita yang disampaikannya adalah benar): 'Sesungguhnya seorang manusia mulai diciptakan dalam perut ibunya setelah diproses selama empat puluh hari (nuthfah). Kemudian menjadi segumpal darah pada empat puluh hari berikutnya. Lalu menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Setelah empat puluh hari berikutnya, Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menghembuskan ruh ke dalam dirinya dan diperintahkan untuk menulis empat hal; rizkinya, ajalnya, amalnya, dan sengsara atau bahagianya.' Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, sungguh ada seseorang darimu yang mengerjakan amal perbuatan ahli surga, hingga jarak antara dirinya dan surga hanyalah satu hasta, namun suratan takdir rupanya ditetapkan baginya hingga ia mengerjakan amal perbuatan ahli neraka dan akhirnya ia pun masuk neraka. Ada pula orang yang mengerjakan amal perbuatan ahli neraka, hingga jarak antara ia dan neraka hanya satu hasta, namun suratan takdir rupanya ditetapkan baginya hingga kemudian ia mengerjakan amal perbuatan ahli surga dan akhirnya ia pun masuk surga.' Telah menceritakan kepada kami ['Utsman bin Abu Syaibah] dan [Ishaq bin Ibrahim] keduanya dari [Jarir bin 'Abdul Hamid]; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin Ibrahim]; Telah mengabarkan kepada kami ['Isa bin Yunus]; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepadaku [Abu Sa'id Al Asyaj]; Telah menceritakan kepada kami [Waki']; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakannya kepada kami ['Ubaidullah bin Mu'adz]; Telah menceritakan kepada kami [Bapakku]; Telah menceritakan kepada kami [Syu'bah bin Hajjaj] seluruhnya dari [Al A'masy] melalui jalur ini, dia berkata di dalam Hadits Waki'; sesungguhnya penciptaan salah seorang dari kalian dimulai dari perut ibunya selama empat puluh malam. Dan di sebutkan di dalam Hadits Mu'adz dari Syu'bah empat puluh malam, kemudian empat puluh hari. Sedangkan di dalam Hadits Jarir, empat puluh hari. (HR. Muslim : 4781)
Hadits di atas menyebutkan bahwa ada empat hal yang sudah ditetapkan sejak bayi dalam kandungan, yaitu rizki, ajal/usia, amal, dan nasib. Amal, rizki, ajal, dan nasib adalah bagian yang tidak bisa dirubah pada diri manusia dan membuat beda antar manusia. Bagian inilah yang disebut qadar. Karena menjadi masalah yang sudah tetap inilah Allah bertanggung jawab dengan menciptakan malaikat-malaikat yang bertugas memenuhi keempat masalah tersebut. Malaikat Jibril a.s bertugas memberikan ilham/ilmu. Ilmu yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul disebut wahyu sedangkan pada manusia biasa disebut ilham. Banyak sedikitnya ilham pada hati seseorang membagi manusia menjadi dua golongan, yaitu manusia yang amal perbuatannya/pekerjaannya sebagai pemberi nasehat dan manusia yang amal perbuatannya bukan sebagai pemberi nasehat. Malaikat Mikail a.s bertugas membagi rizki. Malaikat Izrail a.s bertugas mencabut nyawa dan Malaikat Israfil a.s bertugas meniup sangkala untuk membinasakan makhluk dan kemudian membangunkannya kembali (manusia). Hal ini seperti tugas membolak-balikkan sesuatu kepada dua keadaan.
Allah menetapkan seseorang menjadi pemberi nasehat/penyebar kebaikan agar masalah akherat tidak hancur. Sebagai ujian apakah ia mengemban dengan baik amanat ilmu yang telah diberikan. Allah menetapkan seseorang bukan sebagai pemberi nasehat tidak berarti sebagai golongan celaka tetapi agar masalah dunia ada yang mengurusi. Sebagai ujian apakah ia mau mendekat kepada ulama dan menerima nasehat baik dan mengikutinya.
Allah menetapkan rizki seseorang sedikit bukan untuk merendahkan dan menyengsarakan. Allah menyempitkan rizki seseorang agar nantinya dapat bersandar dan bergantung hanya kepada-Nya. Nabiyullah Isa bin Maryam a.s dilahirkan dikandang domba dalam keadaan miskin. Dapatkah beliau a.s menolak ketentuan tersebut? Sempitnya rizki lahiriah memberi tempat bagi rizki batiniah. Karena rizki meliputi rizki harta benda dan rizki ilmu dan ketenangan batin. Sebagai ujian keimanan apakah ia menyiapkan dirinya untuk menerima rizki batiniah dengan memperbanyak amal shalih dan mendkatkan diri kepada-Nya hingga datang ketenangan batin dan ilmu agama. Allah meluaskan rizki seseorang agar dapat bertindak sebagai penopang syi’ar islam. Sebagai ujian keimanan untuk apa kelebihan hartanya. Karena setiap yang melebihi fungsinya akan melalui hisab. Hal ini seperti Sahabat Abdurrahman bin auf yang mempunyai harta melimpah tetapi hartanya sebagian besar untuk menopang perjuangan Rasulullah saw. Sayyidina Abdurrahman bin auf pernah meminta Rasulullah saw untuk berdoa kepada Allah agar menjadikannya seperti Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar yang waktu mereka sepenuhnya membantu Rasulullah saw dan beribadah. Rasulullah saw mendoakannya tetapi Allah tetap menghendaki agar Sayyidina Abdurrahman bin auf berdagang dan menghasilkan harta yang digunakan sebagai penopang perjuangan islam. Disinilah letak kebijaksanaan dan keadilan Allah SWT. Kaya atau miskin bukanlah ukuran keimanan dan kemulyaan seseorang.
     Allah menjadikan usia seseorang pendek dengan harapan agar terjaga kesuciannya, tidak banyak tersentuh fitnah dunia. Sebagai ujian keimanan apakah ia lebih mementingkan urusan dunia atau akherat. Allah menjadikan usia seseorang panjang agar mempunyai waktu yang cukup banyak untuk beramal shalih. Sebagai ujian keimanan apakah ia termasuk orang yang menyia-nyiakan waktu atau bukan. Umat-umat sebelum islam mempunyai usia yang lebih panjang daripada umat islam. Tetapi usia yang pendek dari umat islam diharapkan oleh-Nya sebagai usia yang barokah. Karena Allah memberi banyak kemudahan dan rahmat kepada umat islam melalui imbalan pahala kebajikan yang nilainya berlipat ganda, tidak seperti umat-umat terdahulu yang mana satu kebaikan dibalas satu. Balasan kebaikan bagi umat islam adalah sepuluh kali lipat hingga ribuan kali lipat seperti halnya sholat di malam lailatul qadar yang nilainya 1000 bulan sholat biasa. Panjang atau pendeknya usia seseorang bukan indikator keimanan dan kemulyaan manusia.
     Allah menjadikan seseorang dengan kesukaran dan kesulitan hidup bukan karena benci tetapi merupakan kehendak-Nya agar orang tersebut tidak mempunyai dosa yang tersisa ketika menghadap-Nya, tidak perlu dihisab, karena kesukaran dan kesulitan hidup sebagai penghapus dosa. Seorang ulama besar, yaitu Habib Abdullah bin Alwi Al haddad (pengarang Ratibul Haddad dan kitab-kitab terkenal) ketika dilahirkan mata beliau sudah dalam keadaan buta. Dapatkah beliau dan orang-orang yang menyandang (maaf) cacat seperti beliau, menolak ketentuan tersebut? Beliau ‘dipaksa’ untuk menerima kondisi buta. Dalam hal ini bukan berarti Allah berbuat dzalim dan tidak adil. Kehendak Allah justru mengandung hikmah besar. Dengan mata buta beliau tidak ‘sempat’ melihat beragam kemaksiatan yang sudah memenuhi dunia sehingga batinnya bersih, suci. Mata batinnya lebih terang daripada mata orang normal. Sebagai ujian keimanan apakah ia mengeluh dan berprasangka buruk kepada-Nya. Allah menjadikan seseorang mendapat kemudahan dan kesenangan hidup agar dapat bersyukur dan menyadari perhatian dan kedermawanan-Nya. Sebagai ujian keimanan apakah ia lupa terhadap-Nya karena terlena oleh kemudahan dan kesenangan hidup.
     Empat hal yang ‘dipaksakan’ kepada manusia bukan untuk menyengsarakan manusia tetapi merupakan kehendak Allah sebagai bentuk kebijaksanaan dan keadilan-Nya demi kelangsungan hidup manusia di alam dunia. Di dalam setiap ketentuan-Nya terdapat hikmah dan rahmat besar yang tersembunyi dari penglihatan mata lahiriah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

islam,mahkota islam,moslem,muslim,solusi,solution,sains,technology,teknologi,quran,nusantara