islam,mahkota islam,moslem,muslim,solusi,solution,sains,technology,teknologi,quran,nusantara

Halaman sebelumnya :



     Alam terdiri dari dua bagian, yaitu materi dan energi. Bila materi dapat punah dan musnah maka energi tetap ada. Sesuai dengan hukum kekekalan energi. Ketika minyak kita bakar maka akan timbul api yang bersifat panas dan juga cahaya yang memancar. Ketika minyak habis terbakar maka esensi minyak yang berupa energi kimiawi berubah menjadi energi panas dan cahaya, yang kemudian diserap oleh benda – benda disekitarnya. Esensi minyak tetap ada, hanya saja setelah terbakar habis, berubah wujud dan berpindah tempat. Ketika gelas berisi air jatuh dan pecah berkeping – keping maka air yang semula berada di dalam gelas tidak bisa dikatakan musnah. Karena air tersebut kembali diserap bumi menjadi mata air atau menguap karena panas matahari. Ketika air menguap esensi air berubah wujud dan diserap oleh udara dan benda – benda disekitarnya. Energi kimiawi, energi panas, energi cahaya atau apapun wujudnya dia tetaplah energi kehidupan yang terjaga kuantitas totalnya.
     Bila ditinjau dari sudut pandang ke’alaman’ maka manusia terdiri dari dua alam, yaitu alam jasmani dan alam ruhani. Jasmani mewakili materi sedangkan apa yang ada di dalam ruhani mewakili energi. Malaikat diciptakan dari cahaya sehingga bisa dikatakan esensi malaikat adalah energi cahaya. Iblis diciptakan dari api sehingga bisa dikatakan esensi iblis adalah energi panas yang membakar.
     Ketika manusia musnah maka jasmaninya yang musnah. Sedang esensinya yang ada dalam hati berpindah-pindah alam. Hal ini seperti mengupas makna Al-Quran yang berlapis-lapis. Atau lebih mudahnya seperti mengupas buah kelapa. Kulit serabut kelapa ibarat alam lahiriah. Kulit dalam, daging buah dan air kelapa seperti rangkaian alam halus/akherat. Makna lahir disingkap/dibuka diibaratkan seperti menggulung alam dunia/nyata sehingga nampak alam ghaib (akherat) lapis pertama. Makna batin lapis pertama disingkap/dibuka diibaratkan seperti menggulung alam akherat lapis pertama sehingga nampak alam akherat lapis kedua. Begitu seterusnya hingga makna batin yang ke-tujuh. Dibalik makna batin yang ke-tujuh inilah surga berada. Sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya bahwa alam akherat lapis ketujuh/langit ketujuh terdapat Asma-Nya Ar-Rahman Ar-Rahim seperti disebut dalam ayat pertama Surah Al-Fatihah. Asma-Nya bukanlah makhluk tetapi bagian dari-Nya tanpa terpisah. Alam dimana Asma-Nya berasal/dipancarkan ini merupakan alam keabadian. Di alam ini juga surga dan neraka berada. Bahwa surga ada dibalik langit ketujuh ini merujuk pada Surah An-Najm ayat 13-15,
“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal,”
Dan Hadits tentang isra mi’raj yang telah disebutkan pada bab sebelumnya di bagian,
Kemudian diperlihatkan kepadaku Sidratul Muntaha yang ternyata bentuknya seperti kubah dengan daun jendelanya laksana telinga-telinga gajah. Di dasarnya ada empat sungai yang berada di dalam (disebut Bathinan) dan di luar (Zhahiran)". Aku bertanya kepada Jibril, maka dia menjawab; "Adapun Bathinan berada di surga sedangkan Zhahiran adalah an-Nail dan al-Furat (dua nama sungai di surga)".
Dan juga yang lebih jelas lagi tetapi dari sudut pandang perkembangan jiwa ada pada Surah Al-Fajr ayat 27-30,
“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.”
Jiwa yang tenang (muthmainnah) berada pada langit ke tiga atau ayat ke lima Surah Al-Fatihah. Jiwa yang kembali (irji’) atau sangat berharap bertemu dengan Allah SWT berada pada langit ke empat atau ayat ke empat Surah Al-Fatihah. Jiwa yang ridho berada pada langit ke lima atau ayat ke tiga Surah Al-Fatihah. Jiwa yang diridhoi-Nya/disambut-Nya berada pada langit ke enam atau ayat kedua Surah Al-Fatihah. Sedangkan jiwa hamba sejati/insan kamil berada pada langit ke tujuh atau ayat pertama Surah Al-Fatihah. Surga disebut setelah penyebutan golongan hamba-Ku maka berarti surga ada setelah/dibalik langit ke tujuh yaitu didekat Sidratul Muntaha.
Dalil bagi kekalnya kehidupan di alam akherat disebutkan juga secara jelas oleh beberapa ayat Al Qur’an di bawah ini :
“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.”
(Qs. Al A’raaf : 40)
Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahanam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: ‘Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?’ Mereka menjawab: ‘Benar (telah datang)’. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.”
(Qs. Az Zumar : 71)
“Dikatakan (kepada mereka): ‘Masukilah pintu-pintu neraka Jahanam itu, sedang kamu kekal di dalamnya’.”
(Qs. Az Zumar : 72)
Ayat – ayat di atas menerangkan bahwa orang – orang kafir atau orang – orang yang mengingkari kebenaran, kelak akan menghuni neraka untuk selama - lamanya.
“Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.”
(Qs. Al Baqarah : 82)
“Allah berfirman: ‘Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar’.” (Qs. Al Maaidah : 119)
“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” (Qs. Al A’raaf : 42)
“Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya.”
(Qs. Al Hijr : 48)
Ayat – ayat di atas menjadi bukti yang jelas bahwa orang – orang beriman kelak akan menghuni surga untuk selama - lamanya. Lalu bagaimana pemahaman beberapa ayat dari Surah Hud dibawah ini,
105. Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia.
106. Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih).
107. Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.
108. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.
Pertama sekali sebelum menafsirkan ayat-ayat di atas maka perlu untuk memahami ayat dibawah ini,
“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.”
(Qs. Ibrahim : 48)
“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).”
(Qs. Ar Ra’d : 39)
Kejadian hari kiamat seperti kejadian perpindahan alam. Bumi dan langit tetap ada tetapi dalam bentuk lain. Ketika bumi dan langit di alam dunia digulung maka tersingkaplah bumi dan langit baru. Ketika makna lahir dkupas maka tersingkaplah makna batin. Sebagaimana bumi dan langit yang memiliki padanannya di alam akherat maka surga dan neraka di akherat-pun memiliki padanannya di alam dunia. Atau bisa dikatakan, “ketika surga diganti dengan surga yang lain, demikian pula neraka.”
“Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman). mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.”
(Qs. Ar Ra’d : 35)
Telah menceritakan kepada kami ['Amru bin Ali] telah menceritakan kepada kami [Abdurrahman bin Mahdi] telah menceritakan kepada kami [Malik] dari [Khubaib bin Abdurrahman] dari [Hafs bin 'Ashim] dari [Abu Hurairah] mengatakan, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Antara rumahku dan mimbarku ada taman dari taman-taman surga, dan mimbarku diatas telagaku."
(HR. Bukhari 6790)
“Apabila kamu melewati taman-taman surga, makan dan minumlah sampai kenyang. Para sahabat lalu bertanya, Apa yang dimaksud taman-taman surga itu, ya Rasulullah? Beliau menjawab, Kelompok dzikir (Kelompok orang yang berdzikir atau majelis taklim)." (HR. Ahmad 12065)
Telah menceritakan kepadaku [Musa bin Mas'ud] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Manshur] dan [Al A'masy] dari [Abu Wail] dari [Abdullah] radliallahu 'anhu menuturkan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Surga lebih dekat kepada salah seorang dari kalian daripada tali sandalnya, neraka juga seperti itu." (HR. Bukhari 6007)
Jadi di alam dunia sudah ada surga dan neraka tetapi dalam bentuk lain. Surga yang sebenarnya ada di atas langit ke tujuh seperti makna batin/makna sebenarnya dari surga yang ada didunia (makna lahir). Perhatikan lagi hadits di bawah ini,
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ash Shabbah Al Bazzar] berkata, telah menceritakan kepada kami [Al Walid bin Abu Tsaur] dari [Simak] dari [Abdullah bin Amirah] dari [Al Ahnaf bin Qais] dari [Al Abbas bin Abdul Muthallib] ia berkata, "Aku pernah berada di wilayah Bathha bersama rombongan yang di dalamnya terdapat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Lalu ada awan yang melintasi mereka, beliau melihat awan itu lalu bersabda: "Kalian menyebut apa ini?" para sahabat menjawab, "Awan." Beliau bersabda: "Dan Al Muzn?" mereka menjawab, "Ya, (kami juga menyebutnya) Al Muzn." Beliau bersabda: "Dan Al 'Anan?" mereka menjawab, "Ya, dan Al 'Anan." -Abu Dawud berkata, "Aku tidak menghafal lafadz Al 'Anan dengan baik- Beliau lalu bertanya: "Apakah kalian tahu berapa jarak antara langit dan bumi?" mereka menjawab, "Kami tidak tahu." Beliau bersabda: "Sesungguhnya jarak antara keduanya adalah bisa tujuh puluh satu, atau tujuh puluh dua, atau tujuh puluh tiga tahun perjalanan -perawi masih ragu-. kemudian langit yang di atasnya juga seperti itu." Hingga beliau menyebutkan tujuh langit. Kemudian setelah langit ketujuh terdapat lautan, jarak antara bawah dan atasnya seperti jarak antara langit dengan langit (yang lain). Kemudian di atasnya terdapat delapan malaikat yang jarak antara telapak kaki dengan lututnya sejauh langit dengan langit yang lainnya. Dan di atas mereka terdapat Arsy, yang antara bagian bawah dengan atasnya sejauh antara langit satu dengan langit yang lainnya. Dan Allah Tabaraka Wa Ta'ala ada di atasnya." Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Abu Suraij] berkata, telah mengabarkan kepada kami ['Abdurrahman bin Abdullah bin Sa'd] dan [Muhammad bin Sa'id] keduanya berkata; telah mengabarkan kepada kami [Amru bin Abu Qais] dari [Simak] dengan sanad dan makna yang sama. Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Hafsh] ia berkata; telah menceritakan kepadaku [Bapakku] berkata, telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin Thahman] dari [Simak] dengan sanad yang sama dan makna hadits ini yang panjang. (HR. Abu Daud 4100)
Bahwa setelah langit ke tujuh tidak ada lagi langit. Yang ada adalah lapisan laut, sekumpulan malaikat, dan Arsy yang di atasnya adalah Singgasana Allah SWT. Surga terletak sebelum Arsy dan setelah langit ke tujuh.
“Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ´Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.”
(Qs. Al Haaqqah : 17)
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ´Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Qs. AL Hadiid : 4)
Sebelum Arsy terdapat sekumpulan malaikat dan lapisan laut. Dimanakah surga ?
Telah bercerita kepada kami [Yahya bin Shalih] telah bercerita kepada kami [Fulaih] dari [Hilal bin 'Ali] dari ['Atha' bin asar] dari [Abu Hurairah radliallahu 'anhu] berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barang siapa yang beriman kepada Allah, menegakkan shalat, berpuasa bulan ramadhan, maka sudah pasti Allah akan memasukkannya kedalam surga, baik apakah dia berjihad di jalan Allah atau dia hanya duduk tinggal di tempat di mana dia dilahirkan". Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya kami sampaikan berita gembira ini kepada orang-orang?" Beliau bersabda: "Sesungguhnya di surga itu ada seratus derajat (kedudukan) yang Allah menyediakannya buat para mujahid di jalan Allah dimana jarak antara dua derajat seperti jarak antara langit dan bumi. Untuk itu bila kalian minta kepada Allah maka mintalah surga firdaus karena dia adalah tengahnya surga dan yang paling tinggi. Aku pernah diperlihatkan bahwa diatas firdaus itu adalah singgasanannya Allah Yang Maha Pemurah dimana darinya mengalir sungai-sungai surga". Berkata [Muhammad bin Fulaih] dari [bapaknya]: "Diatasnya adalah singgasanannya Allah Yang Maha Pemurah.
(HR. Bukhari 2581)
Telah menceritakan kepada kami [Abdush Shamad] ia berkata, Telah menceritakan kepada kami [Abu Qudamah Al Harits bin Ubaid Al Iyadi] ia berkata, Telah menceritakan kepada kami [Abu Imran] yakni Al Jauni, dari [Abu Bakr bin Abdullah bin Qais] dari [bapaknya], bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jannah Firdaus ada empat bagian. Dua bagian terbuat dari emas, yaitu perhiasan dan bejana-bejananya beserta isinya. Kemudian dua bagian yang lain terbuat dari perak, yaitu bejana-bejananya, perhiasannya, dan segala isinya. dan tidak ada penghalang antara penduduk surga dengan Rabb mereka kecuali hanya pakaian keagungan yang terdapat pada Wajah-Nya di surga 'Adn. Dan sungai-sungai ini mengalir dari Surga Aden, kemudian aliran sungai itu menjadi aliran sungai-sungai kecil yang lain." (HR. Ahmad 18898)
Surga berbentuk bukit yang tinggi, puncaknya berada di tengah-tengah yang disebut Surga Firdaus. Surga Firdaus merupakan puncak surga yang tidak ada lagi penghalang antara penduduk surga dengan Allah SWT kecuali pakaian keagungan-Nya yaitu Arsy. Jadi surga berada mulai lapisan atas laut yaitu ujung telapak kaki malaikat pemikul Arsy hingga setinggi malaikat tersebut tanpa ada lagi langit. Maka dari penjelasan ini semua kita menjadi paham bahwa surga dan neraka dalam Surah Hud ayat 105-108 tersebut bukanlah surga dan neraka yang hakiki/sebenarnya tetapi surga dan neraka yang berada mulai alam dunia hingga alam akherat sebelum sidratul muntaha (langit ke tujuh), dimana semua alam tersebut memiliki langit dan bumi. Surga atau neraka tergambar ketika ajal menjemput, selalu ikut ‘mendampingi’ mulai alam barzakh hingga alam akherat yang terakhir dimana berada surga dan neraka yang sebenarnya. Ada hadits yang menjelaskan keberadaan surga dan neraka lain tersebut sebelum surga dan neraka yang sebenarnya,
Dan telah menceritakan kepadaku [Muhammad bin Abdul Malik Al Umawi] Telah menceritakan kepada kami [Abdul Aziz bin Al Mukhtar] Telah menceritakan kepada kami [Suhail bin Abu Shalih] dari [bapaknya] dari [Abu Hurairah] ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seorang pemilik harta benda yang tidak membayar zakatnya, melainkan pada hari kiamat akan dibuatkan untuknya seterika api yang dipanaskan di neraka Jahannam, kemudian disetrikakan pada lambungnya, dahinya dan punggungya. Hingga Allah memutuskan diantara hamba-hambaNya di suatu hari yang lamanya sama dengan lima puluh ribu tahun dibanding hari di dunia. Kemudian barulah dilihatkan jalannya ke surga atau ke neraka. Dan tidak ada seorang pemilik unta pun yang enggan mengeluarkan haknya (zakat dari untanya) melainkan (pada hari kiamat kelak) ia dilentangkan di suatu tempat yang datar, lalu ia diinjak dan digigit oleh unta-unta itu. Setiap kali unta yang terakhir telah melaluinya, maka unta yang pertama kembali melaluinya. Demikianlah hingga Allah memutuskan perkara di antara para manusia pada suatu hari, dimana waktu itu sama dengan lima puluh ribu tahun (di dunia), dan baru ia akan melihat jalannya, apakah ke surga ataukah ke neraka. Dan tidak seorang pemilik kambing yang tidak menunaikan zakatnya melainkan pada hari kiamat ia akan dilentangkan pada tempat yang datar, lalu kambing-kambing itu menginjaknya dengan kukunya dan menanduknya dengan tanduk-tanduknya. Di antara kambing itu tidak ada yang bengkok tanduknya dan tidak ada pula yang tidak bertanduk. Setiap kali kambing yang terakhir telah melaluinya, maka kambing yang pertama kembali melaluinya. Demikianlah hingga Allah memutuskan perkara di antara para manusia pada suatu hari, dimana waktu itu sama dengan lima puluh ribu tahun (di dunia), dan baru ia akan melihat jalannya, apakah ke surga ataukah ke neraka." Suhail berkata; "Aku tidak tahu, apakah beliau menyebutkan sapi atau tidak." Kemudian para sahabat bertanya, "Bagaimana dengan kuda, ya Rasulullah?" beliau bersabda: "Pada ubun-ubun kuda itu, padanya terikat kebaikan hingga hari kiamat. Kuda itu tiga macam; yaitu kuda yang pemiliknya akan mendapatkan pahala, kuda yang menjadi perisai, dan kuda yang pemiliknya mendapatkan dosa. Adapun kuda yang pemiliknya mendapat pahala adalah kuda yang dipersiapkan untuk membela agama Allah, dan untuk berjihad di jalan Allah. Maka apa-apa yang dimakan kuda itu dituliskan bagi pemiliknya kebajikan sebanyak apa yang dimakan kuda tersebut. Jika ia menggembalakannya di padang gembalaan maka akan ditulis bagi pemiliknya kebajikan sebanyak yang dimakannya. Bila kuda tersebut diberi air minum dari sungai maka akan dituliskan kebajikan bagi pemiliknya sebanyak air yang diminumnya. Bila tali kuda itu terputus, kemudian kuda itu lari ke tempat yang tinggi maka dituliskan untuk pemiliknya kebajikan sebanyak jejak yang dilalui kuda itu. Sedangkan kuda yang menjadi perisai bagi pemiliknya adalah orang yang memelihara kuda untuk kemuliaan dan perhiasan dengan tidak melupakan hak Allah, yaitu dijadikan sebagai tunggangan dan diperhatikan pula makanannya, baik di masa mudah atau sulit. Sedangkan kuda yang pemiliknya akan mendapat dosa ialah apabila orang memeliharanya untuk menyombongkan diri dan karena riya`, maka kuda bagi orang itu menjadi sumber dosa." Para sahabat bertanya lagi, "Bagaimana dengan keledai wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Tidak ada sesuatu yang diturunkan oleh Allah tentang himar kecuali ayat ini yang pendek namun menyeluruh; 'Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan sebesar zarrah (biji sawi), niscaya ia akan melihat (pahala) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan keburukan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat pula balasannya.'" Dan telah menceritakannya kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] Telah menceritakan kepada kami [Abdul Aziz Ad Darawardi] dari [Suhail] dengan isnad ini, dan ia pun menuturkan hadits itu. Dan telah menceritakannya kepadaku [Muhammad bin Abdullah bin Bazi'] Telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Zurai'] Telah menceritakan kepada kami [Rauh bin Al Qasim] Telah menceritakan kepada kami [Shuhail bin Abu Shalih] dengan isnad ini dan ia berkata; Ia mengganti AQSHAA` dengan ADLBAA`. Dan ia juga menyebutkan; "Lalu disetrikakan pada lambung dan punggungnya." dan ia tidak menyebutkan "JABINUHU (keningnya)." Dan telah menceritakan kepadaku [Harun bin Sa'id Al Aili] Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Wahb] telah mengabarkan kepadaku [Amru bin Harits] bahwa [Bukair] telah menceritakan kepadanya dari [Dzakwan] dari [Abu Hurairah] dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: "Jika seorang hamba tidak menunaikan hak Allah atau Shadaqah (zakat) untanya" Lalu ia menuturkan hadits sebagaimana hadits Suhail dari bapaknya.
(HR. Muslim 1648)
Di surga yang sebenarnya, yang tidak ada lagi langit, maka kehidupan di dalamnya adalah kekal selamanya,
Dari Abu Said bin Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Apabila para ahli surga sudah memasuki surga, maka berserulah seorang penyeru: "Sesungguhnya bagimu semua adalah dapat terus hidup, maka tidaklah engkau semua akan mati untuk selama-lamanya, engkau semua akan sehat terus, maka tidaklah engkau semua akan sakit untuk selamalamanya, engkau semua akan tetap muda, maka tidaklah engkau semua menjadi tua untuk selama-lamanya, engkau semua akan terus memperoleh kenikmatan, maka tidaklah engkau akan memperoleh kesukaran untuk selama-lamanya."(HR. Muslim)
Telah menceritakan kepada kami [Mu'ad bin Asad] telah mengabarkan kepada kami [Abdullah] telah mengabarkan kepada kami [Umar bin Muhammad bin Zaid] dari [Ayahnya] bahwa dia telah menceritakan kepadanya, dari [Ibnu 'Umar] mengatakan, Rasulullah saw, bersabda: "Ketika penghuni surga telah memasuki surga, dan penghuni neraka telah memasuki neraka, didatangkan kematian yang diletakkan diantara syurga dan neraka, lantas disembelih. Seorang juru seru menyampaikan pengumuman; 'Hai penghuni surga! Sekarang tidak ada kematian. Hai penghuni neraka, sekarang tak ada lagi kematian. Maka penghuni surga bertambah senang sedangkan penghuni neraka menjadi sangat sedih." (HR. Bukhari 6066)
"Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu akan berdiam di tempat yang aman sentosa (surga). Mereka mengenakan sutera halus dan sutera berkembang, sambil duduk berhadap-hadapan. Demikianlah hal ihwal para ahli surga itu. Mereka juga Kami kawinkan dengan bidadari-bidadari yang jelita matanya. Di situ mereka dapat meminta segala macam buah-buahan dengan aman dan sentosa. Di situ mereka tidak akan merasakan kematian lagi, selain kematian yang pertama (ketika di dunia dulu). Allah melindungi mereka dari siksa neraka jahim. Sebagai karunia dari Tuhanmu. Yang sedemikian itu adalah suatu kebahagiaan yang agung sekali."
(Qs. Ad Dukhan: 51-57)
Bagian “kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain).” Dari ayat ke 107 dan 108 Surah Hud dijelaskan oleh hadits di bawah ini,
Dari Ibnu Mas'ud r.a., bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda : “Sesungguhnya saya mengetahui orang dari golongan ahli neraka yang terakhir sekali keluarnya dari neraka itu dan ia pulalah orang dari golongan ahli surga yang terakhir sekali masuknya dalam surga. Yaitu seorang lelaki yang keluar dari neraka dengan merangkak, lalu Allah 'Azzawajalla berfirman padanya: ‘Pergilah -menjauhi dari neraka- dan masuklah dalam surga.’ …” kemudian beliau bersabda: “Yang sedemikian itu tingkat yang terendah sekali dari golongan para ahli surga.” (Muttafaq 'alaih)
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
“...Setelah Allah selesai memberikan keputusan untuk para hamba dan dengan rahmat-Nya Dia ingin mengeluarkan orang-orang di antara ahli neraka yang Dia kehendaki, maka Dia memerintah para malaikat untuk mengeluarkan orang-orang yang tidak pernah menyekutukan Allah. Itulah orang-orang yang dikehendaki Allah untuk mendapatkan rahmat-Nya, yang mengucap: "Laa ilaaha illallah". Para malaikat mengenali mereka di neraka dengan adanya bekas sujud. Api neraka memakan tubuh anak keturunan Adam, kecuali bekas sujud...”
(HR. Muslim No.267)
Dari Shuhaib r.a. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: "Jikalau semua ahli surga sudah memasuki surga, lalu Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman: "Adakah sesuatu yang engkau semua inginkan supaya Aku dapat menambahkan kenikmatan itu padamu semua?" Mereka menjawab: "Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kita (menjadikan wajah-wajah kita bercahaya)? Bukankah Engkau telah memasukkan kita dalam surga dan menyelamatkan kita dari neraka?" Kemudian tersingkaplah tabir (yang menutupi Dzat Allah Ta'ala). Maka tidak ada suatu kenikmatan yang diberikan kepada para ahli surga itu yang lebih mereka sukai daripada melihat kepada Dzatnya Tuhan mereka." (HR. Muslim 266)
Kalau langit, bumi, dan surga mempunyai padanannya di bumi maka baitul ma’mur yang dijelaskan di hadits tentang isra mi’raj,
“Kemudian aku ditampakkan al-Baitul Ma'mur. Aku bertanya kepada Jibril, lalu dia menjawab; "Ini adalah al-Baitul Ma’mur, setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat mendirikan sholat disana. Jika mereka keluar (untuk pergi shalat) tidak ada satupun dari mereka yang kembali". (HR. Bukhari : 2968)
juga memiliki padanannya di bumi. Padanan bagi Baitul Ma’mur di bumi adalah Baitullah Ka’bah di Mekkah Al Mukaramah. Karena alasan inilah do’a kaum muslim yang dipanjatkan di dekat Ka’bah mustajabah, cepat terkabul, bukan karena sebab yang hanya menurut/berdasar prasangka. Baitul Ma’mur sudah dekat dengan Arsy, yang di atasnya Allah ‘bersemayam’. Di Baitul Ma’mur pula tujuh puluh ribu malaikat bergantian sholat, siap mengamini dan menyampaikan do’a kaum muslimin. Dan do’a malaikat adalah mustajabah tanpa penghalang.

Halaman berikutnya :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

islam,mahkota islam,moslem,muslim,solusi,solution,sains,technology,teknologi,quran,nusantara