Halaman sebelumnya :
Bila ditinjau dari sudut pandang ke’alaman’
maka manusia terdiri dari dua alam, yaitu alam jasmani dan alam ruhani. Jasmani
mewakili materi sedangkan apa yang ada di dalam ruhani mewakili energi.
Malaikat diciptakan dari cahaya sehingga bisa dikatakan esensi malaikat adalah
energi cahaya. Iblis diciptakan dari api sehingga bisa dikatakan esensi iblis
adalah energi panas yang membakar.
Ketika manusia musnah maka jasmaninya yang
musnah. Sedang esensinya yang ada dalam hati berpindah-pindah alam. Hal ini
seperti mengupas makna Al-Quran yang berlapis-lapis.
Atau lebih mudahnya seperti mengupas buah kelapa. Kulit serabut kelapa ibarat
alam lahiriah. Kulit dalam, daging buah dan air kelapa seperti rangkaian alam
halus/akherat. Makna lahir disingkap/dibuka diibaratkan seperti menggulung alam
dunia/nyata sehingga nampak alam ghaib (akherat) lapis pertama. Makna batin
lapis pertama disingkap/dibuka diibaratkan seperti menggulung alam akherat lapis
pertama sehingga nampak alam akherat lapis kedua. Begitu seterusnya hingga
makna batin yang ke-tujuh. Dibalik makna batin yang ke-tujuh inilah surga
berada. Sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya bahwa alam akherat lapis
ketujuh/langit ketujuh terdapat Asma-Nya Ar-Rahman Ar-Rahim seperti disebut
dalam ayat pertama Surah Al-Fatihah. Asma-Nya bukanlah makhluk tetapi bagian
dari-Nya tanpa terpisah. Alam dimana Asma-Nya berasal/dipancarkan ini merupakan
alam keabadian. Di alam ini juga surga dan neraka berada. Bahwa surga ada
dibalik langit ketujuh ini merujuk pada Surah An-Najm ayat 13-15,
“Dan sesungguhnya
Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang
lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal,”
Dan
Hadits tentang isra mi’raj yang telah disebutkan pada bab sebelumnya di bagian,
Kemudian
diperlihatkan kepadaku Sidratul Muntaha yang ternyata bentuknya seperti kubah
dengan daun jendelanya laksana telinga-telinga gajah. Di dasarnya ada empat
sungai yang berada di dalam (disebut Bathinan) dan di luar (Zhahiran)".
Aku bertanya kepada Jibril, maka dia menjawab; "Adapun Bathinan berada di
surga sedangkan Zhahiran adalah an-Nail dan al-Furat (dua nama sungai di surga)".
Dan juga yang lebih jelas lagi tetapi dari sudut pandang perkembangan jiwa
ada pada Surah Al-Fajr ayat 27-30,
“Wahai jiwa yang tenang.
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya. Maka
masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.”
Jiwa
yang tenang (muthmainnah) berada pada langit ke tiga atau ayat ke lima Surah
Al-Fatihah. Jiwa yang kembali (irji’) atau sangat berharap bertemu dengan Allah
SWT berada pada langit ke empat atau ayat ke empat Surah Al-Fatihah. Jiwa yang
ridho berada pada langit ke lima atau ayat ke tiga Surah Al-Fatihah. Jiwa yang
diridhoi-Nya/disambut-Nya berada pada langit ke enam atau ayat kedua Surah
Al-Fatihah. Sedangkan jiwa hamba sejati/insan kamil berada pada langit ke tujuh
atau ayat pertama Surah Al-Fatihah. Surga disebut setelah penyebutan golongan
hamba-Ku maka berarti surga ada setelah/dibalik langit ke tujuh yaitu didekat
Sidratul Muntaha.
Dalil
bagi kekalnya kehidupan di alam akherat disebutkan juga secara jelas oleh
beberapa ayat Al Qur’an di bawah ini :
“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami
dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi
mereka pintu-pintu langit dan tidak
(pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah
Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.”
(Qs. Al
A’raaf : 40)
“Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahanam berombong-rombongan.
Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan
berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: ‘Apakah belum pernah datang
kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan
memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?’ Mereka menjawab:
‘Benar (telah datang)’. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang
yang kafir.”
(Qs. Az
Zumar : 71)
“Dikatakan (kepada mereka):
‘Masukilah pintu-pintu neraka Jahanam itu, sedang kamu kekal di dalamnya’.”
(Qs. Az
Zumar : 72)
Ayat – ayat
di atas menerangkan bahwa orang – orang kafir atau orang – orang yang
mengingkari kebenaran, kelak akan menghuni neraka untuk selama - lamanya.
“Dan orang-orang yang
beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.”
(Qs. Al
Baqarah : 82)
“Allah berfirman: ‘Ini adalah suatu
hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka
surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah rida terhadap mereka
dan mereka pun rida terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar’.” (Qs.
Al Maaidah : 119)
“Dan orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri
seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni
surga; mereka kekal di dalamnya.” (Qs.
Al A’raaf : 42)
“Mereka tidak merasa lelah
di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak
akan dikeluarkan daripadanya.”
(Qs. Al
Hijr : 48)
Ayat – ayat
di atas menjadi bukti yang jelas bahwa orang – orang beriman kelak akan menghuni
surga untuk selama - lamanya. Lalu bagaimana pemahaman beberapa ayat dari Surah
Hud dibawah ini,
105. Di kala datang hari itu, tidak
ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara
mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia.
106. Adapun orang-orang yang
celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan
menarik nafas (dengan merintih).
107. Mereka kekal di dalamnya
selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain).
Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.
108. Adapun orang-orang yang
berbahagia, maka tempatnya di dalam surga mereka kekal di dalamnya selama ada
langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia
yang tiada putus-putusnya.
Pertama
sekali sebelum menafsirkan ayat-ayat di atas maka perlu untuk memahami ayat
dibawah ini,
“(Yaitu) pada hari (ketika)
bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka
semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa
lagi Maha Perkasa.”
(Qs.
Ibrahim : 48)
“Allah
menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki),
dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).”
(Qs. Ar
Ra’d : 39)
Kejadian
hari kiamat seperti kejadian perpindahan alam. Bumi dan langit tetap ada tetapi
dalam bentuk lain. Ketika bumi dan langit di alam dunia digulung maka
tersingkaplah bumi dan langit baru. Ketika makna lahir dkupas maka
tersingkaplah makna batin. Sebagaimana bumi dan langit yang memiliki padanannya
di alam akherat maka surga dan neraka di akherat-pun memiliki padanannya di
alam dunia. Atau bisa dikatakan, “ketika surga diganti dengan surga yang lain,
demikian pula neraka.”
“Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada
orang-orang yang takwa ialah (seperti
taman). mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti, sedang
naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang
bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.”
(Qs. Ar
Ra’d : 35)
Telah menceritakan kepada
kami ['Amru bin Ali] telah menceritakan kepada kami [Abdurrahman bin Mahdi]
telah menceritakan kepada kami [Malik] dari [Khubaib bin Abdurrahman] dari
[Hafs bin 'Ashim] dari [Abu Hurairah] mengatakan, "Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda: "Antara rumahku dan mimbarku ada taman dari
taman-taman surga, dan mimbarku diatas telagaku."
(HR. Bukhari
6790)
“Apabila kamu melewati taman-taman
surga, makan dan minumlah sampai kenyang. Para sahabat lalu bertanya, Apa yang
dimaksud taman-taman surga itu, ya Rasulullah? Beliau menjawab, Kelompok dzikir
(Kelompok orang yang berdzikir atau majelis taklim)." (HR.
Ahmad 12065)
Telah menceritakan kepadaku [Musa
bin Mas'ud] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Manshur] dan [Al
A'masy] dari [Abu Wail] dari [Abdullah] radliallahu 'anhu menuturkan, Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Surga lebih dekat kepada salah
seorang dari kalian daripada tali sandalnya, neraka juga seperti itu." (HR.
Bukhari 6007)
Jadi di
alam dunia sudah ada surga dan neraka tetapi dalam bentuk lain. Surga yang
sebenarnya ada di atas langit ke tujuh seperti makna batin/makna sebenarnya
dari surga yang ada didunia (makna lahir). Perhatikan lagi hadits di bawah ini,
Telah menceritakan kepada kami
[Muhammad bin Ash Shabbah Al Bazzar] berkata, telah menceritakan kepada kami
[Al Walid bin Abu Tsaur] dari [Simak] dari [Abdullah bin Amirah] dari [Al Ahnaf
bin Qais] dari [Al Abbas bin Abdul Muthallib] ia berkata, "Aku pernah
berada di wilayah Bathha bersama rombongan yang di dalamnya terdapat Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam. Lalu ada awan yang melintasi mereka, beliau
melihat awan itu lalu bersabda: "Kalian menyebut apa ini?" para
sahabat menjawab, "Awan." Beliau bersabda: "Dan Al Muzn?"
mereka menjawab, "Ya, (kami juga menyebutnya) Al Muzn." Beliau
bersabda: "Dan Al 'Anan?" mereka menjawab, "Ya, dan Al
'Anan." -Abu Dawud berkata, "Aku tidak menghafal lafadz Al 'Anan
dengan baik- Beliau lalu bertanya: "Apakah kalian tahu berapa jarak antara
langit dan bumi?" mereka menjawab, "Kami tidak tahu." Beliau
bersabda: "Sesungguhnya jarak antara keduanya adalah bisa tujuh puluh
satu, atau tujuh puluh dua, atau tujuh puluh tiga tahun perjalanan -perawi
masih ragu-. kemudian langit yang di atasnya juga seperti itu." Hingga
beliau menyebutkan tujuh langit. Kemudian setelah langit ketujuh terdapat
lautan, jarak antara bawah dan atasnya seperti jarak antara langit dengan
langit (yang lain). Kemudian di atasnya terdapat delapan malaikat yang jarak
antara telapak kaki dengan lututnya sejauh langit dengan langit yang lainnya.
Dan di atas mereka terdapat Arsy, yang antara bagian bawah dengan atasnya
sejauh antara langit satu dengan langit yang lainnya. Dan Allah Tabaraka Wa
Ta'ala ada di atasnya." Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Abu
Suraij] berkata, telah mengabarkan kepada kami ['Abdurrahman bin Abdullah bin
Sa'd] dan [Muhammad bin Sa'id] keduanya berkata; telah mengabarkan kepada kami
[Amru bin Abu Qais] dari [Simak] dengan sanad dan makna yang sama. Telah
menceritakan kepada kami [Ahmad bin Hafsh] ia berkata; telah menceritakan
kepadaku [Bapakku] berkata, telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin
Thahman] dari [Simak] dengan sanad yang sama dan makna hadits ini yang panjang.
(HR. Abu Daud 4100)
Bahwa
setelah langit ke tujuh tidak ada lagi langit. Yang ada adalah lapisan laut,
sekumpulan malaikat, dan Arsy yang di atasnya adalah Singgasana Allah SWT.
Surga terletak sebelum Arsy dan setelah langit ke tujuh.
“Dan malaikat-malaikat
berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat
menjunjung ´Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.”
(Qs. Al Haaqqah : 17)
“Dialah yang menciptakan langit dan
bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ´Arsy. Dia mengetahui apa
yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun
dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja
kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Qs. AL Hadiid :
4)
Sebelum
Arsy terdapat sekumpulan malaikat dan lapisan laut. Dimanakah surga ?
Telah bercerita kepada kami
[Yahya bin Shalih] telah bercerita kepada kami [Fulaih] dari [Hilal bin 'Ali]
dari ['Atha' bin asar] dari [Abu Hurairah radliallahu 'anhu] berkata;
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barang siapa yang
beriman kepada Allah, menegakkan shalat, berpuasa bulan ramadhan, maka sudah
pasti Allah akan memasukkannya kedalam surga, baik apakah dia berjihad di jalan
Allah atau dia hanya duduk tinggal di tempat di mana dia dilahirkan".
Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya kami sampaikan
berita gembira ini kepada orang-orang?" Beliau bersabda:
"Sesungguhnya di surga itu ada seratus derajat (kedudukan) yang Allah
menyediakannya buat para mujahid di jalan Allah dimana jarak antara dua derajat
seperti jarak antara langit dan bumi. Untuk itu bila kalian minta kepada Allah
maka mintalah surga firdaus karena dia adalah tengahnya surga dan yang paling
tinggi. Aku pernah diperlihatkan bahwa diatas firdaus itu adalah singgasanannya
Allah Yang Maha Pemurah dimana darinya mengalir sungai-sungai surga".
Berkata [Muhammad bin Fulaih] dari [bapaknya]: "Diatasnya adalah
singgasanannya Allah Yang Maha Pemurah.
(HR. Bukhari
2581)
Telah menceritakan kepada kami
[Abdush Shamad] ia berkata, Telah menceritakan kepada kami [Abu Qudamah Al
Harits bin Ubaid Al Iyadi] ia berkata, Telah menceritakan kepada kami [Abu
Imran] yakni Al Jauni, dari [Abu Bakr bin Abdullah bin Qais] dari [bapaknya],
bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jannah Firdaus ada
empat bagian. Dua bagian terbuat dari emas, yaitu perhiasan dan
bejana-bejananya beserta isinya. Kemudian dua bagian yang lain terbuat dari
perak, yaitu bejana-bejananya, perhiasannya, dan segala isinya. dan tidak ada
penghalang antara penduduk surga dengan Rabb mereka kecuali hanya pakaian
keagungan yang terdapat pada Wajah-Nya di surga 'Adn. Dan sungai-sungai ini
mengalir dari Surga Aden, kemudian aliran sungai itu menjadi aliran
sungai-sungai kecil yang lain." (HR. Ahmad 18898)
Surga
berbentuk bukit yang tinggi, puncaknya berada di tengah-tengah yang disebut
Surga Firdaus. Surga Firdaus merupakan puncak surga yang tidak ada lagi
penghalang antara penduduk surga dengan Allah SWT kecuali pakaian keagungan-Nya
yaitu Arsy. Jadi surga berada mulai lapisan atas laut yaitu ujung telapak kaki
malaikat pemikul Arsy hingga setinggi malaikat tersebut tanpa ada lagi langit.
Maka dari penjelasan ini semua kita menjadi paham bahwa surga dan neraka dalam
Surah Hud ayat 105-108 tersebut bukanlah surga dan neraka yang
hakiki/sebenarnya tetapi surga dan neraka yang berada mulai alam dunia hingga alam
akherat sebelum sidratul muntaha (langit ke tujuh), dimana semua alam tersebut
memiliki langit dan bumi. Surga atau neraka tergambar ketika ajal menjemput,
selalu ikut ‘mendampingi’ mulai alam
barzakh hingga alam akherat yang terakhir dimana berada surga dan neraka yang
sebenarnya. Ada hadits yang menjelaskan keberadaan surga dan neraka lain
tersebut sebelum surga dan neraka yang sebenarnya,
Dan telah menceritakan
kepadaku [Muhammad bin Abdul Malik Al Umawi] Telah menceritakan kepada kami
[Abdul Aziz bin Al Mukhtar] Telah menceritakan kepada kami [Suhail bin Abu
Shalih] dari [bapaknya] dari [Abu Hurairah] ia berkata; Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seorang pemilik harta benda yang tidak
membayar zakatnya, melainkan pada hari kiamat akan dibuatkan untuknya seterika
api yang dipanaskan di neraka Jahannam, kemudian disetrikakan pada lambungnya,
dahinya dan punggungya. Hingga Allah memutuskan diantara hamba-hambaNya di
suatu hari yang lamanya sama dengan lima puluh ribu tahun dibanding hari di
dunia. Kemudian barulah dilihatkan jalannya ke surga atau ke neraka. Dan tidak
ada seorang pemilik unta pun yang enggan mengeluarkan haknya (zakat dari
untanya) melainkan (pada hari kiamat kelak) ia dilentangkan di suatu tempat
yang datar, lalu ia diinjak dan digigit oleh unta-unta itu. Setiap kali unta
yang terakhir telah melaluinya, maka unta yang pertama kembali melaluinya.
Demikianlah hingga Allah memutuskan perkara di antara para manusia pada suatu
hari, dimana waktu itu sama dengan lima puluh ribu tahun (di dunia), dan baru
ia akan melihat jalannya, apakah ke surga ataukah ke neraka. Dan tidak seorang
pemilik kambing yang tidak menunaikan zakatnya melainkan pada hari kiamat ia
akan dilentangkan pada tempat yang datar, lalu kambing-kambing itu menginjaknya
dengan kukunya dan menanduknya dengan tanduk-tanduknya. Di antara kambing itu
tidak ada yang bengkok tanduknya dan tidak ada pula yang tidak bertanduk.
Setiap kali kambing yang terakhir telah melaluinya, maka kambing yang pertama
kembali melaluinya. Demikianlah hingga Allah memutuskan perkara di antara para
manusia pada suatu hari, dimana waktu itu sama dengan lima puluh ribu tahun (di
dunia), dan baru ia akan melihat jalannya, apakah ke surga ataukah ke
neraka." Suhail berkata; "Aku tidak tahu, apakah beliau menyebutkan
sapi atau tidak." Kemudian para sahabat bertanya, "Bagaimana dengan
kuda, ya Rasulullah?" beliau bersabda: "Pada ubun-ubun kuda itu,
padanya terikat kebaikan hingga hari kiamat. Kuda itu tiga macam; yaitu kuda
yang pemiliknya akan mendapatkan pahala, kuda yang menjadi perisai, dan kuda
yang pemiliknya mendapatkan dosa. Adapun kuda yang pemiliknya mendapat pahala
adalah kuda yang dipersiapkan untuk membela agama Allah, dan untuk berjihad di
jalan Allah. Maka apa-apa yang dimakan kuda itu dituliskan bagi pemiliknya
kebajikan sebanyak apa yang dimakan kuda tersebut. Jika ia menggembalakannya di
padang gembalaan maka akan ditulis bagi pemiliknya kebajikan sebanyak yang
dimakannya. Bila kuda tersebut diberi air minum dari sungai maka akan
dituliskan kebajikan bagi pemiliknya sebanyak air yang diminumnya. Bila tali
kuda itu terputus, kemudian kuda itu lari ke tempat yang tinggi maka dituliskan
untuk pemiliknya kebajikan sebanyak jejak yang dilalui kuda itu. Sedangkan kuda
yang menjadi perisai bagi pemiliknya adalah orang yang memelihara kuda untuk
kemuliaan dan perhiasan dengan tidak melupakan hak Allah, yaitu dijadikan
sebagai tunggangan dan diperhatikan pula makanannya, baik di masa mudah atau
sulit. Sedangkan kuda yang pemiliknya akan mendapat dosa ialah apabila orang
memeliharanya untuk menyombongkan diri dan karena riya`, maka kuda bagi orang
itu menjadi sumber dosa." Para sahabat bertanya lagi, "Bagaimana
dengan keledai wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Tidak ada sesuatu
yang diturunkan oleh Allah tentang himar kecuali ayat ini yang pendek namun
menyeluruh; 'Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan sebesar zarrah (biji sawi),
niscaya ia akan melihat (pahala) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan
keburukan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat pula balasannya.'" Dan
telah menceritakannya kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] Telah menceritakan
kepada kami [Abdul Aziz Ad Darawardi] dari [Suhail] dengan isnad ini, dan ia
pun menuturkan hadits itu. Dan telah menceritakannya kepadaku [Muhammad bin
Abdullah bin Bazi'] Telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Zurai'] Telah
menceritakan kepada kami [Rauh bin Al Qasim] Telah menceritakan kepada kami
[Shuhail bin Abu Shalih] dengan isnad ini dan ia berkata; Ia mengganti AQSHAA`
dengan ADLBAA`. Dan ia juga menyebutkan; "Lalu disetrikakan pada lambung
dan punggungnya." dan ia tidak menyebutkan "JABINUHU
(keningnya)." Dan telah menceritakan kepadaku [Harun bin Sa'id Al Aili]
Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Wahb] telah mengabarkan kepadaku [Amru bin
Harits] bahwa [Bukair] telah menceritakan kepadanya dari [Dzakwan] dari [Abu
Hurairah] dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
"Jika seorang hamba tidak menunaikan hak Allah atau Shadaqah (zakat)
untanya" Lalu ia menuturkan hadits sebagaimana hadits Suhail dari
bapaknya.
(HR. Muslim
1648)
Di surga
yang sebenarnya, yang tidak ada lagi langit, maka kehidupan di dalamnya adalah
kekal selamanya,
Dari Abu Said bin Abu Hurairah r.a.
bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Apabila para ahli surga sudah
memasuki surga, maka berserulah seorang penyeru: "Sesungguhnya bagimu
semua adalah dapat terus hidup, maka
tidaklah engkau semua akan mati untuk
selama-lamanya, engkau semua akan sehat terus, maka tidaklah engkau semua
akan sakit untuk selamalamanya, engkau semua akan tetap muda, maka tidaklah
engkau semua menjadi tua untuk selama-lamanya, engkau semua akan terus
memperoleh kenikmatan, maka tidaklah engkau akan memperoleh kesukaran untuk selama-lamanya."(HR.
Muslim)
Telah menceritakan kepada kami
[Mu'ad bin Asad] telah mengabarkan kepada kami [Abdullah] telah mengabarkan
kepada kami [Umar bin Muhammad bin Zaid] dari [Ayahnya] bahwa dia telah
menceritakan kepadanya, dari [Ibnu 'Umar] mengatakan, Rasulullah saw, bersabda:
"Ketika penghuni surga telah memasuki surga, dan penghuni neraka telah
memasuki neraka, didatangkan kematian yang diletakkan diantara syurga dan
neraka, lantas disembelih. Seorang juru seru menyampaikan pengumuman; 'Hai
penghuni surga! Sekarang tidak ada
kematian. Hai penghuni neraka, sekarang tak ada lagi kematian. Maka
penghuni surga bertambah senang sedangkan penghuni neraka menjadi sangat
sedih." (HR. Bukhari 6066)
"Sesungguhnya
orang-orang yang bertaqwa itu akan berdiam di tempat yang aman sentosa (surga).
Mereka mengenakan sutera halus dan sutera berkembang, sambil duduk
berhadap-hadapan. Demikianlah hal ihwal para ahli surga itu. Mereka juga Kami
kawinkan dengan bidadari-bidadari yang jelita matanya. Di situ mereka dapat
meminta segala macam buah-buahan dengan aman dan sentosa. Di situ mereka tidak akan merasakan kematian lagi,
selain kematian yang pertama (ketika di dunia dulu). Allah melindungi mereka dari siksa neraka jahim. Sebagai karunia dari
Tuhanmu. Yang sedemikian itu adalah suatu kebahagiaan yang agung sekali."
(Qs. Ad
Dukhan: 51-57)
Bagian “kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang
lain).” Dari ayat ke 107 dan 108 Surah Hud dijelaskan oleh hadits di bawah
ini,
Dari Ibnu Mas'ud r.a., bahwasanya
Rasulullah s.a.w. bersabda :
“Sesungguhnya saya mengetahui orang dari golongan
ahli neraka yang terakhir sekali keluarnya dari neraka itu dan ia pulalah
orang dari golongan ahli surga yang terakhir sekali masuknya dalam surga. Yaitu
seorang lelaki yang keluar dari neraka dengan merangkak, lalu Allah
'Azzawajalla berfirman padanya: ‘Pergilah -menjauhi dari neraka- dan masuklah
dalam surga.’ …” kemudian beliau bersabda: “Yang sedemikian itu tingkat yang
terendah sekali dari golongan para ahli surga.” (Muttafaq 'alaih)
Hadis riwayat Abu Hurairah
ra.:
“...Setelah Allah selesai
memberikan keputusan untuk para hamba dan dengan rahmat-Nya Dia ingin mengeluarkan orang-orang di antara ahli
neraka yang Dia kehendaki, maka Dia memerintah para malaikat untuk
mengeluarkan orang-orang yang tidak pernah menyekutukan Allah. Itulah
orang-orang yang dikehendaki Allah untuk mendapatkan rahmat-Nya, yang mengucap:
"Laa ilaaha illallah". Para malaikat
mengenali mereka di neraka dengan adanya bekas sujud. Api neraka memakan tubuh
anak keturunan Adam, kecuali bekas sujud...”
(HR. Muslim
No.267)
Dari Shuhaib r.a. bahwasanya
Rasulullah saw. bersabda: "Jikalau semua ahli surga sudah memasuki surga,
lalu Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman: "Adakah sesuatu yang engkau semua
inginkan supaya Aku dapat menambahkan
kenikmatan itu padamu semua?" Mereka menjawab: "Bukankah Engkau
telah memutihkan wajah-wajah kita (menjadikan wajah-wajah kita bercahaya)?
Bukankah Engkau telah memasukkan kita dalam surga dan menyelamatkan kita dari
neraka?" Kemudian tersingkaplah tabir (yang menutupi Dzat Allah Ta'ala).
Maka tidak ada suatu kenikmatan yang diberikan kepada para ahli surga itu yang
lebih mereka sukai daripada melihat kepada Dzatnya Tuhan mereka." (HR.
Muslim 266)
Kalau
langit, bumi, dan surga mempunyai padanannya di bumi maka baitul ma’mur yang
dijelaskan di hadits tentang isra mi’raj,
“Kemudian
aku ditampakkan al-Baitul Ma'mur. Aku bertanya kepada Jibril, lalu dia
menjawab; "Ini adalah al-Baitul Ma’mur, setiap hari ada tujuh puluh ribu
malaikat mendirikan sholat disana. Jika mereka keluar (untuk pergi shalat)
tidak ada satupun dari mereka yang kembali". (HR. Bukhari : 2968)
juga
memiliki padanannya di bumi. Padanan bagi Baitul Ma’mur di bumi adalah Baitullah
Ka’bah di Mekkah Al Mukaramah. Karena alasan inilah do’a kaum muslim yang
dipanjatkan di dekat Ka’bah mustajabah, cepat terkabul, bukan karena sebab yang
hanya menurut/berdasar prasangka. Baitul Ma’mur sudah dekat dengan Arsy, yang
di atasnya Allah ‘bersemayam’. Di Baitul Ma’mur pula tujuh puluh ribu malaikat
bergantian sholat, siap mengamini dan menyampaikan do’a kaum muslimin. Dan do’a
malaikat adalah mustajabah tanpa penghalang.
Halaman berikutnya :
Halaman berikutnya :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar