Setiap artikel boleh dicopy dan disebarluaskan, tetapi hendaknya dengan menyertakan link tulisan kami ini. Terima kasih.
BAHTERA NABI NUH A.S

BAHTERA NABI NUH
A.S
Dia, yang tiada satupun ibarat dapat berkisah
berkata;
“Wahai Musa janganlah berlaku sombong
Masih ada hambaKu yang ilmunya
Lebih luas dari ilmumu”
Duh Gusti ampunilah hambamu ini
Dimanakah daku dapat menemuinya
“Dia ijinkan dua lautan bertemu,
antara keduanya ada batas pemisah.
Tidakkah
nikmatKu sering kamu lupakan?
Dari batas itu keluar mutiara dan marjan.”
Khidir a.s berkata;
Daku berjalan tegar di siangnya malam
Menyapu gelombang menyibak belantara
Memupus gunung mengaduk samudera
Diantara gemuruh asap di lebatnya bumi gelap
Daku lunaskan dahagaku dengan air kehidupan
Di seribu sungai Martapura
Juga di kawah bumi Banyuwangi
Karena mereka dua tapi satu jua dulunya
Di batas timur terbitnya sang surya
Wahai gunung kalbu dan sungai penghambaan
Temuilah daku disini
Kan kubagikan nafasku
Hingga lenyap letih dukamu
Pelihara jalanmu
Tuk sampai di titik segala huruf
Jibril a.s berkata;
Wahai manusia, Raja mengutusku
Membolak-balikkan hatimu
Di antara hidup dan mati
Dengan api biruku
Yang aku tulis dari timur Ijen
Dan berakhir di barat Islandia
Daku dan saudaraku Khidir dua huruf
Tetapi satu di masa tanpa huruf
Daku di langit dan dia di bumi
Berjubah hijau hikmah ilahiah
Bersholawat Shalallahu ‘ala Muhammad
Huruf arabik geraknya dari kanan kawan
Berakhirnya di kiri
Martapura gudang permata dan batu mulia kawan
Begitu juga Banyuwangi
Bukit di Pancer itu buktinya
Di batas pertemuan dua lautan
Dalam kalbu juga ada dua samudera kawan
Samudera rahasia ma’rifat
Dan samudera rahasia sunnatullah hukum
syariat
Bertemu
di Qolbu Sayyidina Muhammad saw
Banyuwangi
menyimpan banyak misteri. Alas Purwo mengisyaratkan awal kejadian. Sumber Agung
dimana pantai pulau merah dan bukit pancer berada mengisyaratkan bayangan arasy
Allah di permukaan bumi (sedangkan bayangan Baitul Makmur adalah Ka’bah
di kota Mekkah). Rabbul Arsyil Azhim (Pemilik Arsy Yang penuh Keagungan).
Bukit Pancer sendiri yang mengandung tambang emas mengisyaratkan bayangan dari rahasia
Ummul Kitab (hakekat Al Quran). Sumber api biru di lereng gunung Ijen
yang muncul karena pertemuan antara gas belerang kadar tinggi dengan udara kaya
okisgen mengisyaratkan keberadaan (hakekat) api biru malaikat Jibril a.s.
Nuh a.s berkata;
Wahai manusia, kemarilah
Naiklah ke bahteraku
Sebentar lagi banjir segunung
Tumpahan air dari langit
Bertemu semburan air dari bumi
Santaplah bubur merah-putihku
Penyembuh segala penyakit
Aku berdiri di tengah dua putra besarku
Yang satu menurunkan raja-raja berilmu hikmah
Pemilik lautan air tawar
Dzulkarnain salah satunya
Satu lagi menurunkan nabi-nabi berilmu sirri
Pemilik lautan air asin
Khidir penjaganya
Dia, yang bertahta di atas Arasy keagungan
Nabi berkata;
“Wahai kalbu benamkan air ilmumu
Wahai ruh hentikan dulu air hidayahmu,
Dan airpun surut, perintah disempurnakan
Dan bahtera berlabuh di gunung judi,
Saatnya kebinasaan bagi kaum zholim”
Gunung ada dua kawan
Yang satu gunung akal berapi
Satu lagi gunung kalbu rendah hati
Yang satu pengetahuan empiris
Satu lagi pengetahuan hamba sejati
Yang satu terpendam letusan ego
Asal tidak berlebihan munculkan sejahtera
Satu lagi sadar kegersangan diri
Mengundang cahaya Robbani
Tanah arab hanya ada gunung batu kawan
Sedangkan Nusantara berkalung gunung berapi
Di samping gunung perbukitan
Bahtera Nabi Nuh berlabuh di Nusantara kawan
Karena disini bertahta raja-raja bani Israil
Berhakim ulama-ulama ahlul bayt Nabi
Bertemu dan bermufakat demi jawa
Prabu Brawijaya dan Syaikh Jumadil bersahabat
kawan
Yang satu berakar raja-raja bani Israil
Satu lagi berdarah Sayyidina Muhammad saw
Israil dan Ismail bersaudara kawan
Karena bapak Ibrahim a.s
Gunung judi ditopang dua pilar kawan
Huruf Jisim dan huruf Da’im
Jisim adalah surga dunia kawan
Sedangkan Da’im surga yang sebenarnya
Surga Jisim menghijaukan lereng gunung berapi
kawan
Sedangkan surga Da’im tambang intan permata
Surga Jisim melahirkan kreativitas kawan
Surga Da’im cahaya keyakinan dan kedamaian
Jawa juga dua huruf kawan
Huruf Jim dan huruf Wawu
Jimnya sama dengan yang di judi kawan
Sedangkan Wawu kelembutan dan keramahan jawa
Dari kasih-sayang arab Wudda
Jawa, jawi, jiwa sama kawan
Karena ditopang oleh dua huruf
Pahami bahwa judi adalah puncaknya jiwa
Karena Da’im puncaknya Wudda
Gunung Prahu tempatnya
Yang pasti belum tahu kawan
Namanya juga rahasia
Renungkan sendiri saja
Aku
mau lihat si Arafah ketawa
Di dataran tinggi Dieng, Wonosobo,
Jawa Tengah terdapat gunung Prahu yang mempunyai puncak dengan ketinggian 2590
mdpl. Berbeda dengan gunung-gunung di
pulau Jawa pada umumnya, di gunung Prahu tidak dijumpai tanaman bunga Edelweiss.
Keberadaan bunga Edelweiss di suatu gunung memberi petunjuk bahwa gunung
tersebut terendam air sampai di puncaknya ketika terjadi banjir raksasa di
zaman Nabi Nuh a.s. Apakah ini berarti ketika zaman Nabi Nuh a.s, gunung Prahu
termasuk gunung yang tertinggi sejagad dan menjadi tempat berlabuh bahtera Nabi
Nuh a.s? Entahlah, masih memerlukan penelitian. Tetapi setelah mengalami
letusan hebat, ketingggiannya menjadi berkurang seperti yang terlihat saat ini.
Yang pasti posisi utara-selatan dari gunung Prahu membelah pulau Jawa menjadi
dua bagian.
MANIFESTASI HURUF
Nabi Isa a.s berkata;
Daku tak pernah berucap,
“Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku
bukan penyembah Allah”
Mana mungkin penerima huruf
Mengingkari Tuhan dari pemilik huruf
Daku hanya satu dari sekian
Pewaris IsimNya yang Agung
Daku hanya satu dari sekian
Pemelihara Ismul Azhom
Ismul Azhom adalah empat Ruh penulis kalam
Penerjemah kehendak Allah jadi kenyataan
Saudaraku Nuh, Jibril dan Abu Bakar
Dengan Isim Al Hannanu wal Mannan
Saudaraku Musa, Mikail dan Umar
Dengan Isim Al Badi’as Samawati wal Ardhi
Daku, Izrail dan Usman
Dengan Isim Al Hayyu wal Qayyum
Dan saudaraku Ibrahim, Israfil dan Ali
Dengan Isim Al Jalali wal Ikram
Kami semua menerima huruf
Dari pemilik huruf
Penghulu segala Nabi dan Rasul
Saudaraku Ahmad
Gudang ilmu dan rahmatNya
KIAMAT
Baru ku mengerti
Kenapa kiamat terjadi
PerintahNya untuk menulis,
بِسْÙ…ِ اللَّÙ‡
Tetapi ngawur ditulis terbalik
Dulurr..dulur mbok yo ngajari syariat disik
Ben kuat cekelane
Ben kuat ngadege
Ben kuat mlakune
Bar iku gak popo hakekate
Lak njenengan adusi minyak klentik
Opo gak klambenan
Metu blejet pentunge glantungan
Lak yo podo wedi wong-wong
Cah wedok ning ndalan diambungi kabeh
Ga popo la aku iki gusti
Ngambung gusti..yee
Jajan ning pasar di pangan kabeh
Ga popo la aku iki gusti
Mangan gusti..yee
Kalau belum lengkap tujuh langit
Qolam dan Lauh mahfuzh
Sidratul Muntaha dan ArsyNya
Jangan dulu ngajari manunggaling kawula gusti
Seharusnya jalan syariat dulu
Malah lompat hakekat
Memaksa matahari terbit dari barat
Kenapa Prabu Joyoboyo tega membunuh
Ki Ajar di gunung Padang
Satu guru beda paham
Prabu Joyoboyo patuh guru
Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah
Menyuruh syariat dulu baru hakekat
Ki Ajar kurang ajar pada guru
Menulis di dada muridnya
Kalimat Basmallah terbalik
Mulai dari huruf ha diakhiri huruf ba’
Sebelum bahaya lahir
Sebelum lengkap kalimat
Harus dihapus semua huruf
Ditarik kembali Qolam
Dengan membunuh Ki Ajar
Agar dajjal tidak jadi keluar
Tetapi sekarang tak mungkin seperti itu
Mohon kesadaran saja
Jangan diteruskan
Sebelum terlanjur jadi kalimat
Yang menyebabkan kiamat
Al Quran ada tiga. Al Quran tergelar di alam (ayat kauniyah). Al
Quran yang tertulis (baik di lembaran kertas maupun di Lauh Mahfuzh).
Yang terakhir Al Quran berjalan yaitu Rasulullah saw dan seluruh Ibadur
Rahman pewaris Sirr Nabi.
“Hai
Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu
banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang)
dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya
dari Allah, dan Kitab yang menerangkan.”
(QS. Al Maa’idah 15)
Ketika
wahyu dari Allah SWT turun kepada seorang Rasul melalui malaikat Jibril maka
Jibril a.s berperan sebagai cahaya yang melenyapkan kegelapan sedangkan esensi
(hakekat) dari seorang Rasul sendiri adalah sebuah kitab. Allah menempatkan
dirinya sendiri sebagai cahaya melalui malaikat jibril a.s,
“Dengan kitab
itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan
keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu
dari gelap gulita kepada cahaya yang terang
benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al
Maa’idah 15)
Maka
kitab Taurat adalah kesadaran Nabi Musa a.s, kitab Zabur adalah kesadaran Nabi
Dawud a.s, kitab Injil adalah kesadaran Nabi Isa a.s. ketika kesadaran ini
sudah mencapai kesempurnaan sebuah kitab maka Rasul tersebut menjadi cahaya
yang menyampaikan dan membagi kesadarannya kepada orang lain.
Pada diri setiap Rasul terdapat dua esensi, yaitu Esensi cahaya
Allah (ruh) dan esensi kitabNya (ilmuNya).
“(Yaitu)
Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas
`Arsy.”
(QS. Thaha 5)
Cahaya Allah ArRahman (Yang Maha
Pemurah) merupakan salah satu dari wujud rahmatNya. RahmatNya berwujud dua
cahaya, yaitu Ar Rahman dan Ar Rahim. Jadi ArasyNya adalah rahmatNya yang Ar
Rahim (Yang Maha Penyayang). Ar Rahman bernuansa kedamaian dan kenikmatan (An
Ni’mah) sedangkan Ar Rahim bernuansa keutamaan ilmu (Al Fadhal),
“Maka mereka kembali dengan nikmat dan keutamaan dari
Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah.
Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Ali Imran 174)
Tentu saja yang dimaksud ilmu yang
utama dan sempurna adalah ilmu Al Quran beserta rahasia-rahasianya.
“Jika mereka
berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku; tidak
ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan
yang memiliki `Arsy yang agung".
(QS. At
Taubah 129)
CahayaNya Ar Rahim adalah ArsyNya
yang penuh keagungan karena padanya terdapat Al Quran yang agung,
“Dan sesungguhnya Kami telah
berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang
agung.” (QS. Al Hijr 87)
Jadi pada ArsyNya terdapat hakekat
dari kitabNya yang agung, yaitu Al Quranul Azhim. Ar Rahman dan Ar Rahim,
nikmat dan keutamaan, cahaya dan kitab, dua hal inilah yang menjadi neraca
keadilan bagi tindakan manusia. Cahaya Allah menuntut hak kepada manusia,
begitu juga kitabNya. Allah memiliki hak terhadap manusia begitu juga RasulNya.
Perjanjian adalah pemenuhan dua hak tersebut secara adil, Asyhadu An Laa Ilaha
illa Allah wa Asyhadu Anna Muhammadur Rasulullah. Kalimat tauhid Laa
ilaha illa Allah mengandung larangan yaitu penolakan (nafi) sembah
selain kepada Allah dan perintah yaitu peneguhan (itsbat) dengan cahayaNya. Kalimat Asyhadu Anna Muhammadur
Rasulullah mengandung kepatuhan kepada jalan lurus (syariat) yang diajarkan
Rasul, yang dibukukan dalam kitabullah Al Quran.
Orang islam tidak bisa hanya meneguhkan kalimat tauhid tanpa laku sholat.
Karena sholat adalah induk syariat. Sholat yang benar adalah pembentuk akhlak
luhur (rahmatal lil alamin), seperti yang diisyaratkan pada ucapan salam
setelah sholat. Salam kepada kaum kanan berupa kabar gembira dan kedamaian.
Salam kepada kaum kiri berupa nasehat untuk menjauhi perbuatan jahat yang dapat
mendatangkan adzab Allah. Akhlak luhur adalah akhlak Rasulullah. Dan akhlak
Rasulullah adalah Al Quranul Azhim. Jadi tujuan sholat adalah membumikan Al Quran
ke dalam hati setiap orang sehingga melahirkan akhlak luhur. Adat kesopanan
belum tentu bagian dari akhlak luhur. Adat kesopanan merupakan akhlak luhur
jika dilandasi keikhlasan tanpa pamrih.
Apakah setelah mampu berakhlak luhur boleh meninggalkan sholat? Jawaban dari
pertanyaan ini sepadan dengan pertanyaan, apakah hati manusia senantiasa teguh
(kokoh)? Karena akhlak luhur letaknya di hati (qolbu), tergantung pada kondisi
hati. Sedangkan hati manusia berada dalam keadaan kadang hidup dan kadang mati.
Karena kebutuhan terhadap pertolongan Allah di saat kondisi zero (mati) itulah,
maka di dalam sholat senantiasa dibaca permohonan ihdinash shirotol mustaqim
yang merupakan bagian dari surah Al Fatihah.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan
beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam
(kalbu) mereka rasa kasih sayang.”(QS. Maryam 96)
Rasa kasih sayang atau akhlak
luhur merupakan anugerah dari Allah karena keberadaan iman yang benar, yang
dibuktikan dengan amal saleh. Memang benar bahwa sholat bukan satu-satunya amal
shaleh tetapi sholat adalah ruhnya (tiang) agama. Tanpa sholat ibadah lain
tidak akan ada artinya. Iman sendiri adalah hasil perjuangan melaksanakan
syariat, tidak datang begitu saja. Berislam dulu dengan bukti pelaksanaan
syariat. Iman akan datang karena kesungguhan berislam. Iman adalah islamnya
hati. Awal mulanya adalah kepahitan syariat (pembiasaan dan pemaksaan),
akhirnya adalah manisnya iman. Jika ada orang islam yang berakhlak buruk,
berarti sholatnya yang harus diperbaiki bukan malah ditinggalkan. Sholat yang
benar adalah sholat dengan penuh kesadaran hati. Sholat dengan pemahaman tiap
gerakan dan bacaan di dalamnya. Dan ini merupakan tugas ulama untuk memberikan
pemahaman yang benar tentang sholat. Memberi contoh sholat yang benar. Tidak
bisa hanya menuntut setiap orang islam untuk berakhlak luhur.
Setiap
perbuatan kita, sekecil apapun bentuknya akan menuntut pertanggung-jawaban
kelak. Ini adalah salah satu bentuk Keadilan Allah. Agar tidak sia-sia setiap
perbuatan baik, seringan debupun. Dan tidak mudah berbuat salah, sekecil apapun.
“Barangsiapa
mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan
melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah 7-8)
Pemilihan seorang pemimpin
bukanlah masalah kecil. Pemilihan seorang pemimpin adalah cerminan jiwa kita
sendiri. Tubuh kita adalah miniatur alam. Karena jiwa kita senantiasa memilih pemimpin bagi tindakannya. Siapakah
yang memimpin jiwa kita, apakah syaitan, apakah hawa nafsu kita, apakah akal
kita, apakah hati kita? Kebenaran adalah pada kepemimpinan hati (Qolbu), karena
qolbu yang dapat terhubung ke hati Rasulullah (Fuad) yang suci. Qolbu yang
tersambung ke petunjuk Al Quran. Al Quran menjadi imam bagi jiwa (kesadaran)
kita. Setiap orang memiliki hak untuk menjadi pemimpin dan hal ini tidak bisa
di halangi. Barangsiapa menghalangi berarti melanggar hak orang lain. Tetapi
tugas ulama adalah memberi pemahaman tentang pemilihan pemimpin yang benar.
Memberi pemahaman yang benar kepada umat dan melarang orang untuk menjadi
pemimpin adalah dua hal yang berbeda karena memberi pemahaman tidak berarti
melarang hak orang lain.
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang
yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara
orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir
(orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul
orang-orang yang beriman.”(QS. Al Maaidah 57)
Buah
ejekan dan permainan adalah suatu isyarat bahwa hukum dan ajaran islam dipandang
sebelah mata, kampungan dan dihinakan sendiri oleh orang-orang islam karena
keberpihakannya pada pemimpin yang zhalim. Zhalim sendiri menunjukkan adanya
sikap berlebihan dan melampaui batas. Batas dan neraca keadilan agama diterjang
dan dibuang ke belakang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar